Candi simbatan adalah salah satu peninggalan sejarah yang ada di daerah
Magetan. Candi ini berada di Desa Simbatan +/- 17 Km arah timur dari
kota Magetan, tepatnya di kecamatan nguntoronadi. Di candi ini menjadi
icon dan kebanggaan warga sekitar, bahkan sering digunakan untuk
mengadakan acara adat-istiadat atau tampat wisata para penduduk lokal
maupun kabupaten-kabupaten sekitar.
Di candi ini juga ada arca Dewi Sri,
yag berada di dalam genangan air. Ketika diadakan acara maka air ini
akan dibuang keluar untuk dapat melihat Arca Dewi Sri.
Sejak tahun 1813 Arca Dewi Sri setiap hari Jum’at Pahing bulan
Muharram dilaksanakan Bersih Desa secara rutin tiap tahun oleh warga
setempat pada siang hari.
Sejak tahun 1933 sampai tahun 1942, pada Arca
Dewi Sri tepat pada dada kiri dan kanan keluar air sumber yang bersih,
sebagian besar oleh warga di luar Magetan mengambil dan memanfaatkan air
itu untuk pengobatan segala macam penyakit. Ini juga memjadi
kepercayaan warga sekitar, dan menjadi salah satu daya tarik tempat ini.
Di dalam bangunan utama Candi Simbatan terdapat arca tokoh perempuan yang oleh warga sekitar di percayai sebagai sosok Dewi Sri.Dewi Sri dalam mitologi masyarakat Hindu-Jawa, dianggap sebagai tokoh perempuan yang memberikan sumber penghidupan.
Ritual membersihkan candi tersebut dengan menguras air di sekeliling
candi yang dipenuhi air hingga menenggelamkan patung tersebut.Ritual
dilakukan rutin sejak nenek moyang zaman Kerajaan Majapahit. Ini
dipercaya warga sebagai tolak balak datangya bencana.
Ritual dilakukan setiap hari Jumat pahing di bulan syuro. Puncaknya
ada penarian ikan dengan lagu wajib kembang jeruk yang dinyanyikan oleh 2
sinden yag telah disiapkan.
Sebelum acara tarian, terlebih dulu ada sesaji dengan memotong satu
ekor kambing. Dengan menanam kepala kambing di sekitar lokasi candi
beserta sesaji lain. Terdiri dari candu, minuman limun merah dan putih,
bedak, sisir, minyak srimpi dan kaca yang melambangkan berbagai
keperluan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kesejahteraan yang dibawa
lambangnya oleh Dewi Sri.
Kamis, 07 September 2017
Candi Sukuh
Candi Sukuh Karanganyar menjadi salah satu candi unik dengan predikat
cukup mencolok dan nggak biasa. Candi Sukuh sendiri merupakan komplek
candi agama Hindu dengan ciri khas adanya ornamen lingga dan yoni
sehingga dianggap tidak lazim. Karena itulah kenapa banyak pengunjung
yang tertarik untuk datang dan melihat sendiri keunikan yang dimiliki.
Kamu juga penasaran? Yuk ikuti ulasan lengkap Candi Sukuh dari Pegipegi.
Candi Sukuh terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah dan berjarak sekitar 20 km dari Karanganyar, atau dari Surakarta dapat ditempuh dalam jarak 36 km. Letaknya yang ada di lereng bagian barat Gunung Lawu Karanganyar, yaitu sekitar 910 meter dpal menjadikan warna hijau segar mendominasi kawasan ini.
Kalau memulai perjalanan dari Solo, travelers bisa naik alat transportasi umum dengan jalur : naik bus jurusan Tawangmangu – turun di Terminal Pandan – naik angkutan atau bus ke Pertigaan Nglorog – naik ojek hingga ke Candi Sukuh. Karena aksesnya menanjak dan cukup terjal kamu bisa minta tukang ojek untuk menunggu atau janjian jam berapa akan menjemput. Beda kalau kamu naik motor atau mobil karena kamu bisa pulang kapan saja setelah puas mengeksplorasi Candi Sukuh. Dan hanya dengan membayar tiket masuk Rp3.000* per orang, kamu bisa mengintip keunikan Candi Sukuh.
Menurut sejarah, Candi Sukuh diperkirakan dibangun akhir abad ke-15 M. Sejak ditemukan oleh Johnson pada masa pemerintahan Britania Raya tahun 1815, Candi Sukuh terus menjadi obyek penelitian oleh Van der Vlis. Penelitian lanjutan terus dilakukan pada tahun 1889 oleh Verbeek dengan cara inventarisasi, lalu diteruskan oleh WF. Stutterheim dan Knebel di tahun 1910. Hasil laporan yang dilakukan ini kemudian dibukukan dalam Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto.
Diperkiraan penyimpangan Candi Sukuh yang tidak lazim ini disebabkan karena kala itu pengaruh agama Hindu di Jawa mulai memudar sehingga pendiri dan pemimpin saat itu kembali menghidupkan unsur pra-Hindu dan budaya setempat yang identik dengan jaman Megalitikum, yaitu bentuk bangunan candi dengan teras/punden berundak-undak.
Candi Sukuh terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah dan berjarak sekitar 20 km dari Karanganyar, atau dari Surakarta dapat ditempuh dalam jarak 36 km. Letaknya yang ada di lereng bagian barat Gunung Lawu Karanganyar, yaitu sekitar 910 meter dpal menjadikan warna hijau segar mendominasi kawasan ini.
Kalau memulai perjalanan dari Solo, travelers bisa naik alat transportasi umum dengan jalur : naik bus jurusan Tawangmangu – turun di Terminal Pandan – naik angkutan atau bus ke Pertigaan Nglorog – naik ojek hingga ke Candi Sukuh. Karena aksesnya menanjak dan cukup terjal kamu bisa minta tukang ojek untuk menunggu atau janjian jam berapa akan menjemput. Beda kalau kamu naik motor atau mobil karena kamu bisa pulang kapan saja setelah puas mengeksplorasi Candi Sukuh. Dan hanya dengan membayar tiket masuk Rp3.000* per orang, kamu bisa mengintip keunikan Candi Sukuh.
Menurut sejarah, Candi Sukuh diperkirakan dibangun akhir abad ke-15 M. Sejak ditemukan oleh Johnson pada masa pemerintahan Britania Raya tahun 1815, Candi Sukuh terus menjadi obyek penelitian oleh Van der Vlis. Penelitian lanjutan terus dilakukan pada tahun 1889 oleh Verbeek dengan cara inventarisasi, lalu diteruskan oleh WF. Stutterheim dan Knebel di tahun 1910. Hasil laporan yang dilakukan ini kemudian dibukukan dalam Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto.
Diperkiraan penyimpangan Candi Sukuh yang tidak lazim ini disebabkan karena kala itu pengaruh agama Hindu di Jawa mulai memudar sehingga pendiri dan pemimpin saat itu kembali menghidupkan unsur pra-Hindu dan budaya setempat yang identik dengan jaman Megalitikum, yaitu bentuk bangunan candi dengan teras/punden berundak-undak.
Candi Cetho
Selain Candi Sukuh, candi lain yang akan kita temukan di lereng
Gunung Lawu adalah Candi Cetho. Dari Tawangmangu, jaraknya sekitar 6 s/d
8 km. Candi ini juga merupakan candi Hindu yang merupakan peninggalan
dari Kerajaan Majapahit. Beberapa arca dan relief di candi ini juga bisa
dibilang cukup vulgar seperti Candi Sukuh. Namun, jumlahnya tak terlalu
banyak.
Candi cetho adalah salah satu wisata yang menarik untuk di kunjungi di kabupaten karang anyar. Candi yang berada di lereng gunung lawu ini berada di ketinggian, dengan suasana lembab khas pegunungan, dan keindahan alam khas hutan hujan tropis di sekitar candi cetho.
Belum banyak yang mengetahui tentang keberadaan candi cetho ini, mungkin karena kurang promosi dan kalah tenar dengan wisata andalan kabupaten karang anyar yaitu air terjun grojogan sewu. Tetapi candi cetho ini juga memiliki keunikan tersendiri.
Candi Cetho adalah candi peninggalan kerajaan beragama Hindu. Bahkan sampai sekarang di waktu-waktu tertentu umat hindu masih sering melakukan aktivitas keagamaan di candi cetho. Jadi jangan kaget kalau di beberapa tempat di sekitar candi cetho ini terdapat sesajen bekas ritual keagamaan.
Candi Cetho ditemukan seorang arkeolog Belanda yang bernama Van de Vlies sekitar tahun 1842. Pertama kali ditemukan keadaan candi cetho sangat memprihatinkan, hanya terdapat 14 teras dengan kondisi batuan sudah ditutupi oleh lumut. Pemugaran selanjutnya dilakukan oleh Humardani seorang asisten pribadi Presiden Soeharto pada tahun 1970 .
Berdasarkan penelitian ilmuwan dan arkolog, Candi Cetho diperkirakan dibangun pada 1451-1470 atau saat Raja Brawijaya V di Majapahit berkuasa Candi cetho di perkirana dibangun untuk ritual tolak bala dan ruawatn karena pada masa tersebut kerajaan majapahit banyak terjadi kerusuhan dan permasalahan kerajaan.
Candi Sadon
Candi Sadon terletak di Dusun Sadon, Desa Cepoko, Kecamatan Panekan,
Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, tepatnya di sebelah jalan raya
Magetan – Panekan. Walaupun nama candi tersebut adalah Candi Sadon,
sesuai dengan nama dusun tempatnya berada, namun masyarakat setempat
lebih mengenalnya dengan nama Candi Reog, karena di reruntuhan Candi
Sadon terdapat Kalamakara, arca raksasa Kala yang wajahnya mirip dengan
kepala harimau pada 'dhadhakmerak'.
Dhadhakmerak adalah topeng kepala harimau dengan hiasan susunan bulumerak disekelilingnya. Topeng ini merupakan atribut tokoh Singabarong dalam kesenian reog. Topeng dhadak merak yang berat keseluruhannya antara 30-40 kg tersebut biasanya dikenakan oleh penari Singabarong.
Pada tahun 1966, batu-batu reruntuhan candi tersebut diobrak-abrik dan dirusak oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Pada tahun 1969, dengan dipelopori oleh Sutaryono, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Pembinaan kebudayaan Kabupaten Magetan, diadakan penataan kembali batu-batu reruntuhan Candi Sadon. Di antara reruntuhan peninggalan bersejarah tersebut terdapat arca Kalamakara, arca naga, batu bergambar binatang, bekas umpak, yoni, dan batu yang merupakan bagian sudut candi.
Di samping itu, di areal tersebut juga didapati tiga batu bertulis. Menurut penuturan Sarnu dari Dinas Sejarah dan Purbakala Kabupaten Magetan, tulisan di ketiga batu tersebut berbunyi A-PA PA-KA-LA, SA DA PA KRA-MA dan BA DA SRI-PA SA-BA DA-HA-LA. Dari tulisannya yang berbentuk balok atau kwadrat, diperkirakan bahwa batu bertulis tersebut berasal dari masa yang sama dengan prasasti yang diketemukan di Dusun Pledokan, Kediri, Jawa Timur.
Dhadhakmerak adalah topeng kepala harimau dengan hiasan susunan bulumerak disekelilingnya. Topeng ini merupakan atribut tokoh Singabarong dalam kesenian reog. Topeng dhadak merak yang berat keseluruhannya antara 30-40 kg tersebut biasanya dikenakan oleh penari Singabarong.
Pada tahun 1966, batu-batu reruntuhan candi tersebut diobrak-abrik dan dirusak oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Pada tahun 1969, dengan dipelopori oleh Sutaryono, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Pembinaan kebudayaan Kabupaten Magetan, diadakan penataan kembali batu-batu reruntuhan Candi Sadon. Di antara reruntuhan peninggalan bersejarah tersebut terdapat arca Kalamakara, arca naga, batu bergambar binatang, bekas umpak, yoni, dan batu yang merupakan bagian sudut candi.
Di samping itu, di areal tersebut juga didapati tiga batu bertulis. Menurut penuturan Sarnu dari Dinas Sejarah dan Purbakala Kabupaten Magetan, tulisan di ketiga batu tersebut berbunyi A-PA PA-KA-LA, SA DA PA KRA-MA dan BA DA SRI-PA SA-BA DA-HA-LA. Dari tulisannya yang berbentuk balok atau kwadrat, diperkirakan bahwa batu bertulis tersebut berasal dari masa yang sama dengan prasasti yang diketemukan di Dusun Pledokan, Kediri, Jawa Timur.
Telaga Punden Clalak
Punde Clelek yang berupa
Cagar Budaya berjumlah tiga buah meliputi arca dan miniatur rumah.
Sedangkan Sumber Clelek sendiri merupakan telaga kecil yang sudah
terkenal sebagai tempat wisata di Magetan Jawa Timur dan menjadi objek
wisata yang romantis untuk sepasang kekasih.
Wisata Punden Clelek Magetan adalah salah satu tempat wisata yang berada di Desa Driyorejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Wisata Punden Clelek Magetan adalah tempat wisata yang ramai dengan wisatawan pada hari biasa maupun hari liburan. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari. Wisata Punden Clelek Magetan memiliki pesona keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sangat di sayangkan jika anda berada di kota Magetan tidak mengunjungi wisata Punden Clelek Magetan yang mempunyai keindahanyang tiada duanya tersebut.
Wisata Punden Clelek Magetan sangat cocok untuk mengisi kegiatan liburan anda, apalagi saat liburan panjang seperti libur nasional, ataupun hari ibur lainnya. Keindahan wisata Wisata Punden Clelek Magetan ini sangatlah baik bagi anda semua yang berada di dekat atau di kejauhan untuk merapat mengunjungi tempat wisata Punden Clelek di kota Magetan.
Dimana lokasi Wisata Punden Clelek Magetan ? seperti yang tertulis di atas lokasi terletak di Desa Driyorejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Tetapi jika anda masih bingung di mana lokasi atau letak Wisata Punden Clelek Magetan saya sarankan anda mencari dengan mengetik Wisata Punden Clelek Magetan di search google maps saja. Di Google maps sudah tertandai dimana lokasi yang anda cari tersebut. Wisata Punden Clelek Magetan merupakan tempat wisata yang harus anda kunjungi karena pesona keindahannya tidak ada duanya. Penduduk lokal daerah Wisata Punden Clelek Magetan juga sangat ramah tamah terhadap wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota Magetan juga terkenal akan Wisata Punden Clelek Magetan yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Punden Clelek adalah tiga buah benda cagar budaya (BCB) yang terletak di bawah pohon besar di tepi Sumber Clelek. Benda cagar budaya yang dimaksud terdiri dari sebuah arca dan dua buah miniatur rumah. Meski kondisinya telah rusak, arca yang terdapat di Punden Clelek masih dapat dikenali dari keberadaan belalai dan sifat duduknya. Arca tersebut dikenali sebagai Ganesa, dewa berkepala gajah dengan sifat duduk uttkutikasana (dua telapak kaki bertemu di tengah).
Wisata Punden Clelek Magetan adalah salah satu tempat wisata yang berada di Desa Driyorejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Wisata Punden Clelek Magetan adalah tempat wisata yang ramai dengan wisatawan pada hari biasa maupun hari liburan. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari. Wisata Punden Clelek Magetan memiliki pesona keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sangat di sayangkan jika anda berada di kota Magetan tidak mengunjungi wisata Punden Clelek Magetan yang mempunyai keindahanyang tiada duanya tersebut.
Wisata Punden Clelek Magetan sangat cocok untuk mengisi kegiatan liburan anda, apalagi saat liburan panjang seperti libur nasional, ataupun hari ibur lainnya. Keindahan wisata Wisata Punden Clelek Magetan ini sangatlah baik bagi anda semua yang berada di dekat atau di kejauhan untuk merapat mengunjungi tempat wisata Punden Clelek di kota Magetan.
Dimana lokasi Wisata Punden Clelek Magetan ? seperti yang tertulis di atas lokasi terletak di Desa Driyorejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Tetapi jika anda masih bingung di mana lokasi atau letak Wisata Punden Clelek Magetan saya sarankan anda mencari dengan mengetik Wisata Punden Clelek Magetan di search google maps saja. Di Google maps sudah tertandai dimana lokasi yang anda cari tersebut. Wisata Punden Clelek Magetan merupakan tempat wisata yang harus anda kunjungi karena pesona keindahannya tidak ada duanya. Penduduk lokal daerah Wisata Punden Clelek Magetan juga sangat ramah tamah terhadap wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota Magetan juga terkenal akan Wisata Punden Clelek Magetan yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Punden Clelek adalah tiga buah benda cagar budaya (BCB) yang terletak di bawah pohon besar di tepi Sumber Clelek. Benda cagar budaya yang dimaksud terdiri dari sebuah arca dan dua buah miniatur rumah. Meski kondisinya telah rusak, arca yang terdapat di Punden Clelek masih dapat dikenali dari keberadaan belalai dan sifat duduknya. Arca tersebut dikenali sebagai Ganesa, dewa berkepala gajah dengan sifat duduk uttkutikasana (dua telapak kaki bertemu di tengah).
Air Terjun Jarakan
Setelah puas foto2 Watu Ondo…perjalanan dilanjutkan…kira2 hanya berjarak
100 meter dari Watu Ondo, kita akan menemukan Air Terjun Jarakan.
Menurut web pemkab ketinggian Air Terjun Jarakan 35 meter, menurut saya
lebih dari itu, perkiraan saya ketinggian Air Terjun Jarakan sekitar 70 –
80 meter.
Hati2 saat mendekati Air Terjun Jarakan…batuan diatas sangat labil, sering runtuh, erutama disaat musim hujan…sebaiknya segera keluar dari daerah sini..gazebo2 sepanjang jalan atapnya banyak yang rusak ketimpa batu2 yang jatuh…atapnya dari beton cor lho…
Air Terjun Jarakan ini merupakan bagian kawasan obyek wisata Air Terjun yang sedang dikembangkan pemerintah Kabupaten Magetan. Air terjun ini berlokasi di desa Ngancar, kecamatan Plaosan.
Air Terjun Jarakan terletak sekitar 80 meter di atas Air Terjun Watu Ondo. Dengan ketinggian air terjun sekitar 35 meter, di dasar air terjun ini terdapat sendang kecil dimana para wisatawan dapat mandi, mencuci muka atau hanya untuk bermain air.
Dari watu ondo, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan sekitar 80 meter untuk sampai ke air terjun kedua yaitu air terjun Jarakan yang memiliki ketinggian sekitar 35 meter. Di bawah air terjun terdapat sebuah sendang kecil yang dapat digunakan para pengunjung untuk sekedar mencuci muka. Airnya yang dingin mampu menyegarkan tubuh setelah menempuh jalan setapak yang cukup menguras keringat.
Hati2 saat mendekati Air Terjun Jarakan…batuan diatas sangat labil, sering runtuh, erutama disaat musim hujan…sebaiknya segera keluar dari daerah sini..gazebo2 sepanjang jalan atapnya banyak yang rusak ketimpa batu2 yang jatuh…atapnya dari beton cor lho…
Air Terjun Jarakan ini merupakan bagian kawasan obyek wisata Air Terjun yang sedang dikembangkan pemerintah Kabupaten Magetan. Air terjun ini berlokasi di desa Ngancar, kecamatan Plaosan.
Air Terjun Jarakan terletak sekitar 80 meter di atas Air Terjun Watu Ondo. Dengan ketinggian air terjun sekitar 35 meter, di dasar air terjun ini terdapat sendang kecil dimana para wisatawan dapat mandi, mencuci muka atau hanya untuk bermain air.
Dari watu ondo, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan sekitar 80 meter untuk sampai ke air terjun kedua yaitu air terjun Jarakan yang memiliki ketinggian sekitar 35 meter. Di bawah air terjun terdapat sebuah sendang kecil yang dapat digunakan para pengunjung untuk sekedar mencuci muka. Airnya yang dingin mampu menyegarkan tubuh setelah menempuh jalan setapak yang cukup menguras keringat.
Air Terjun Watu Ondo
Terletak di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan,
Propinsi Jawa Timur dan terletak pada Koordinat GPS: 07041’51.1” LS –
111012’26.7” BT pada ketinggian 1.476 m dpl.
Untuk mengunjungi air terjun ini dapat kita tempuh dari beberapa jalan, namun yang paling mudah dari Ngerong. Apabila anda datang dari arah Magetan, ketika mencapai daerah Ngerong (sebelum pertigaan ke arah Sarangan) ada papan petunjuk sebelah kiri jalan ke arah Air Terjun Pundak Kiwo. Dari pertigaan ini kita harus maju sepanjang kurang lebih 2 KM untuk sampai ke pintu gerbang atau loket pembayaran, ada beberapa persimpangan kalau ragu2 sebaiknya bertanya kepada orang yang ditemui pasti akan ditunjukan.
Setelah sampai di gerbang, kita dapat menitipkan kendaraan kita ke penduduk sekitar pintu gerbang, disini gak ada tempat parkir resmi. Pintu gerbang biasanya dijaga oleh ibu2 pemilik warung sebelah loket pembayaran dan kita dapat menitipkan mobil kita di rumah ibu ini.
Untuk anda yang pertama kali datang kesini sebaiknya menggunakan jasa pemandu penduduk lokal, untuk menghemat waktu dan kita akan ditunjukan semua tempat menarik di daerah ini, sekalian menjadi teman omong2 kita dalam perjalanan…sepi mbanget lho daerah sini.
Setelah bayar tiket…kita mulai jalan2 kita, dengan berhias hutan pinus dan tebing tinggi di kanan kiri kita…udara sejuk, maklum diketinggian diatas 1.000 meter dpl. Setelah perjalanan sejauh 500 meter kita akan menemukan air terjun Watu Ondo, dengan puncak air terjun dengan ketinggian kira2 hanya 10 meter (web pemkab 20 m).
Untuk mengunjungi air terjun ini dapat kita tempuh dari beberapa jalan, namun yang paling mudah dari Ngerong. Apabila anda datang dari arah Magetan, ketika mencapai daerah Ngerong (sebelum pertigaan ke arah Sarangan) ada papan petunjuk sebelah kiri jalan ke arah Air Terjun Pundak Kiwo. Dari pertigaan ini kita harus maju sepanjang kurang lebih 2 KM untuk sampai ke pintu gerbang atau loket pembayaran, ada beberapa persimpangan kalau ragu2 sebaiknya bertanya kepada orang yang ditemui pasti akan ditunjukan.
Setelah sampai di gerbang, kita dapat menitipkan kendaraan kita ke penduduk sekitar pintu gerbang, disini gak ada tempat parkir resmi. Pintu gerbang biasanya dijaga oleh ibu2 pemilik warung sebelah loket pembayaran dan kita dapat menitipkan mobil kita di rumah ibu ini.
Untuk anda yang pertama kali datang kesini sebaiknya menggunakan jasa pemandu penduduk lokal, untuk menghemat waktu dan kita akan ditunjukan semua tempat menarik di daerah ini, sekalian menjadi teman omong2 kita dalam perjalanan…sepi mbanget lho daerah sini.
Setelah bayar tiket…kita mulai jalan2 kita, dengan berhias hutan pinus dan tebing tinggi di kanan kiri kita…udara sejuk, maklum diketinggian diatas 1.000 meter dpl. Setelah perjalanan sejauh 500 meter kita akan menemukan air terjun Watu Ondo, dengan puncak air terjun dengan ketinggian kira2 hanya 10 meter (web pemkab 20 m).
Langganan:
Postingan (Atom)






